Photoshop Tutorial – Graphic Design

Photoshop tutorial, Graphic Design, web design, web programming, design graphic, logo design, Advertising Design, Free e-book, politic, history, SEO, desain indonesia

Kolonialisme: Sebentuk Kekejaman yang Masih Hadir di Tengah Kita


Prolog

Ketika Indonesia masih dicengkram oleh era penjajahan, banyak sekali terjadi sikap ketidakadilan, dan kesengajaan dalam mengadakan kasta-kasta di dalam tubuh masyarakat Indonesia yang dulu belum kenal dengan nama Indonesia. Indonesia yang dulu itu, disebut sebagai Hindia Belanda, tersebar dari ujung Aceh hingga Papua sekarang. Kalaupun kasta-kasta itu sudah ada dalam tubuh masyarakat Indonesia, maka kedatangan penjajah seperti memperkuat jurang kelas-kelas tersebut dengan menambahkan satu kelas lagi dan menempatkan diri mereka—bangsa penjajah sebagai bangsa yang harus dihormati—terhormat.

Belanda sebagai bangsa yang menjajah Indonesia ketika itu, pada awalnya datang hanya bertujuan untuk berdagang. Seperti pada umumnya bangsa kulit putih—Eropa yang ketika itu sedang marak-maraknya melakukan pencarian ‘tanah emas’ ke seluruh penjuru dunia. Karena tabiat manusia itu tidak pernah ada puasnya, maka setelah keinginan untuk berdagang terpenuhi, keinginan untuk menguasai pun menjadi keinginan yang mengebu-gebu. Dengan berbagai cara; lewat penyebaran agama, politik devide et impera—politik yang terkenal ampuh meluluhlantakkan persatuan dan kesatuan rakyat Hindia Belanda atau lewat infiltrasi kebudayaan dengan mencontohkan perilaku budaya Barat dan memamerkannya kepada bangsa pribumi yang di-cap masih primitif.

Berbagai cara itu ternyata sangat ampuh. Sedikit demi sedikit, lahan-lahan pribumi nusantara dicaplok oleh orang kulit putih. Sehingga, lama sekali bumi nusantara ini dijadikan koloni oleh imperial bangsa yang jauhnya ribuan kilometer dari Hindia Belanda. Kekayaan nusantara disedot, dan dijual untuk membiayai pembuatan kota-kota di bawah laut. Berabad-abad, sehingga anak bangsa nusantara sendiri merasa jijik dengan prilaku bangsanya yang masih primitif dan mengelu-elukan orang-orang kulit putih—padahal orang-orang kulit putih itu adalah penjajah.

Hegemoni Kolonialisme

Kata Kolonialisme menurut Oxford English Dictionary merupakan:

Sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru… sekumpulan orang yang bermukim dalam sebuah lokalitas baru, membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan negara asal mereka; komunitas yang dibentuk seperti itu, terdiri dari para pemukim asal dan para keturunan mereka dan pengganti-penggantinya, selama hubungan dengan negara asal masih dipertahankan.

Dari pengertian itu saja, kita dapat melihat bahwa kolonialisme memang merupakan sebuah bentuk baru dari sebuah pemukiman yang dibuat oleh orang-orang pendatang—kulit putih. Bentuk baru ini pun kemudian sengaja diciptakan tanpa mengindahkan para pemukim pribumi yang telah lebih dulu menempati tanah tersebut.

Karena persepsi inilah, maka tak jarang kita melihat bahwa negara-negara Imperialis Eropa yang menjalankan Kolonialisme menggunakan segala cara untuk dapat hadir dan menguasai tanah jajahannya dan membuat koloni disana. Dapat kita ambil satu contoh yaitu konflik Palestina-Israel. Palestina pada awalnya merupakan jajahan Inggris. Ketika di tangan Inggris inilah, Inggris mendatangkan para imigran Yahudi. Selanjutnya, para imigran Yahudi ini, membentuk koloni-koloni menggeser peran rakyat pribumi Palestina sejengkal-demi-sejengkal dari tanahnya. Konflik Palestina-Israel inilah yang merupakan bukti nyata kekejaman dari Kolonialisme yang sengaja diadakan disana.

Jika kita lihat, realitas yang terjadi ketika zaman kolonial masih berlangsung dalam roman ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa’, tokoh Minke yang merupakan seorang terpelajar sempat berpemikiran bahwa bangsanya sendiri adalah bangsa yang sangat primitif. Penuh dengan ritual mistik, yang seringkali diejek oleh bangsa kulit putih. Minke pun merasa bahwa bangsanya sendiri merupakan bangsa pengecut, yang melebihkan kekuatan lelaki diatas segalanya—kekuatan umur yang lebih tua harus disegani, namun ketika berhadapan dengan tuan-tuan kulit putih, sikap menjilat dari kalangan bangsawan—bangsanya sendiri sudah cukup untuk membuat Minke menggaris bawahi bahwa bangsanya adalah bangsa yang pengecut.

Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Seiring dengan karirnya yang menanjak sebagai seorang penulis, Minke mulai berhadapan dengan sebentuk wajah lain dari bangsanya, dan wajah dari bangsa-bangsa yang juga merupakan korban dari Kolonialisme. Pertemuan Minke dengan seorang pemuda Cina, merupakan awal dari kesadarannya mengapa ia pun harus memperjuangkan nasib bangsanya sendiri. Pemuda Cina itu, berani berlayar seorang diri, hingga sampai ke tanah Hindia untuk sekedar mengajak bangsanya yang telah bertahun di tanah Hindia agar menyokong perjuangan dalam menggulingkan pemerintahan tua yang sedang bercokol di Cina. Selanjutnya, dalam kesempatan yang lain, Minke telah pula bertemu dengan seorang petani, yang rela menggarap tanahnya sendiri walaupun sangat kecil untuk menghidupi keluarganya. Dia enggan untuk menyerahkan tanahnya kepada para tuan tanah. Dari sana, Minke mulai mencintai bangsanya sendiri. Bahkan, ia pun sangat memegang erat kata-kata mamanya—Nyai Ontosoroh alias Sanikem bahwa; “orang Belanda itu sama saja piciknya. Jika kita punya segalanya, mereka akan dengan senang hati membantu orang yang kesusahan, tidak peduli itu pribumi. Yang penting, bayaran kepada mereka tidak pernah putus” Mungkin, begitulah pesan yang pernah dilontarkan oleh Sanikem kepada Minke.

Kekejaman kolonial sendiri, tidak terbatas hanya pada bidang politik maupun hukum saja, tetapi dalam budaya dan bahasa. Di dalam sebuah persidangan saja, orang pribumi tidak boleh menggunakan bahasa Belanda. Seperti yang dapat kita lihat dalam roman Tetralogi Buru karya Pramoedya bahwa, Sanikem dipaksa untuk berbicara dengan bahasa Jawa, padahal ia mengerti dan paham dengan bahasa Belanda. Ini mengindikasikan bahwa, strata penjajah itu lebih tinggi, jadi harus dihormati bahkan dianggap suci.

Pola Kolonial yang Masih Ada

Persepsi sebagian besar masyarakat dunia, menilai bahwa Kolonialisme itu sudah mati. Seiring dengan banyaknya daerah-daerah yang mencapai target kemerdekaan secara de facto dan de jure. Dengan dideklarasikannya kemerdekaan, maka segala bentuk dari kolonialisme pun runtuh. Namun, bisakah pendapat itu masih dipertahankan?

Di tengah era globalisasi saat ini, dimana kekuatan swasta bisa menyamai kekuatan negara, bahkan lebih. Globalisasi yang luas, dapat melewati batas-batas teritorial negara. Maka dari itu, ancaman dari kolonialisme pun bisa saja kembali terbuka yang dilancarkan oleh kekuatan-kekuatan swasta imperialisme—yang beranggapan bahwa kekuatannya yang terkuat.

Di dalam sebuah buletin yang dikeluarkan oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan, mereka menulis bahwa Imperialis dengan pola Kolonialnya telah mengeruk hasil-hasil bumi Indonesia. Freeport mampu meraih total pendapatan US$ 4,2 Milyar pada tahun 2005, dan Indonesia hanya mendapatkan 9,4% plus pajak. PT. Newmont Nusa Tenggara Batu Hijau mendapat 45% dengan cadangan emas 11,9 juta ons. Setoran ke pemerintah hanya US$ 35,90 juta setiap tahunnya, dan masih banyak lagi hasil devisa Indonesia yang menghilang dari bumi persada Nusantara.

Tentunya, jika kesemuanya itu, pemerintah bisa mengelolanya sendiri tentu keuntungan sebesar itu tetap mengalir untuk rakyat Indonesia. Hal ini, menggaris bawahi bahwa, Indonesia sebenarnya masih terikat dengan pola kolonial yang hadir dalam bentuk penjajahan lain.

Epilog

Namun, sebenarnya kolonialisme itu tidaklah mati. Sama saja seperti ideologi-ideologi lain, pola kolonial tetap saja hadir di bumi ini. Memang, tidak se-frontal ketika mereka benar-benar menjajah negeri-negeri kaya, namun pola kolonial yang menjerat negara-negara kaya untuk masuk perangkap dan kembali disedot harta bendanya.

Pola-pola itu pun menjelma lagi ke dalam bentuk prilaku bangsa yang dari dulu memang sudah terjajah. Akibatnya, prilaku mimikri—ingin seperti prilaku orang kulit putih; dalam berpenampilan, berbahasa mencoba menyamakan—dan mencoba untuk jadi yang sempurna, terpatri dalam dada bangsa yang terjajah. Maka, apakah kita termasuk bangsa yang terjajah?

Bibliografi

Ashcroft, Bill, dkk. 2003. Menelanjangi Kuasa Bahasa; Teori dan Praktik Sastra Poskolonial. Yogyakarta: Penerbit Qalam
Buletin Dakwah Gema Pembebasan Edisi 14/03/Y2K7
Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Yogyakarta: Bentang Budaya
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara

Oleh Sayyid Madany Syan

About these ads

One response to “Kolonialisme: Sebentuk Kekejaman yang Masih Hadir di Tengah Kita

  1. Sayyid December 10, 2007 at 6:27 pm

    Terima kasih telh memuat tulisan saya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers